Zaman Udah Berubah

“Mas gagah berubah..
Drastis… Emang mas gagah ngapain aja di sana??” Nyari kepiting mungkin..
😀
Seperti permintaan supaya gue gak
buat opening yang membahas masa lalu, makanya opening kali ini gue mengambil
dari film “Ketika Mas Gagah Pergi dan Gak Pulang-pulang.” Bukan itu judulnya,
itu bang Toyib. Judul yg bener adalah “Ketika Mas Gagah Pergi” biar terkesan
gue itu pengamat film. Padahal baru lihat trialnya doang, sih. Lagi nunggu aja.
Nunggu ada yg bisa didownload. Enggaklah. Lagi nunggu yg mau diajak. “Ukhuk.”
Kali ini gue sebenarnya mau bahas
Zaman yang udah berubah guys. Setelah nyari-nyari di Internet buat nambah
materi, gue teringat trial film yang gue ceritain di atas ada kata Berubahnya.
Jadi, paling enggak masih ada korelasinya gue masukin jadi opening barusan.

—o0o—

Semakin hari, gue semakin tau dan
mengerti akan apa yang udah gue jalani dari bergantinya detik ke menit, menit
berganti jam dan terus akan seperti itu. Dulu banget, zaman gue masih SD. Ada
sebuah teori Darwin menyatakan Manusia itu berasal dari Kera. Namanya gue zaman
SD, bisa baca sama ngomong aja, rasanya udah pengen kenal Dewi Persik “Artis yg
lagi populer zaman gue dulu. Raisa belum ada.” Dan semenjak membaca teori itu
di Buku Biologi. Gue semakin yakin, kalo gue dulu dari Kera. Kalo temen-temen
gue jalan naik sepeda, gue gelantungan di Pohon. Enggaklah.

Credit : Dongeng Budaya

Teori itu sebatas gue percaya di
zaman SD. Setelah masuk SMP, pola pikir gue berkembang, mulai tau busuknya
ketidakpastian (eaaa). Cara gue berfikir juga mulai mengalami peningkatan. Ada
rasa penasaran dengan Teori yang satu ini. Guepun setiap belajar Biologi,
apalagi materinya Evolusi, gue berusaha untuk memperjelas keyakinan bahwa gue
ini dulunya beneran dari monyet atau Gorila.


Rasa penasaran gue masih gak
terjawab. Akhirnya gue sampai di SMA. Namun, gue sedikit kecewa karena materi
Evolusi kurang dibahas di Buku Biologinya. Bahkan, setiap ke Perpus. Bukan…
Gue bukan nyari buku Biologi yg bahas Evolusi. Tapi, minjem ATLAS dan gue nyari
satu daerah di dalam peta, kemudianya gue nyuruh temen-temen gue nyari dengan
klu-klu bangsat yang gue sendiri kadang bingung sama permainan ini. Ada
segerombolan orang (siswa/i) dan dari gerombolan itu, ada satu orang yang
mencari nama daerah duluan, entah itu kota atau desa, kemudian sisa dalam gerombolan
itu disuruh menebak apa yang ada di dalam pikiran satu orang tadi. Belum lagi,
harus mendengarkan Klu-klu yang sebenarnya gak penting. “Deket garis merah,
sampingnya ada cewek.” Serius… kalo masa muda kalian pernah main ini. “TOS!!
Masa muda kalian bahagia.”
Kembali ke materi, jadi di SMA
kemaren (biar kesannya masih MABA tapi versi lama) pembahasan tentang Evolusi
ini kurang mendalam, berbeda dengan SD dan SMP. Lagi-lagi, rasa pensaran gue
gak terjawab. Setelah tamat SMA, gue kembali masuk SD lagi. Biar bisa belajar
Evolusi lagi. Enggak gitu juga. Gue masuk kuliah. Selama gue kuliah itulah yang
akhirnya bisa membantu untuk menjawab rasa penasaran gue dengan Teori Mas
Darwin ini. “Gue panggil mas, biar akrab aja.”

Namanya mahasiswa kuliahan,
tentunya tugas selalu berbau dengan urusan internet dan makalah. Ya, salah satu
cara mencari materi untuk makalah paling gampang ya di Internet. Kalo nyarinya
di hati gue, ya gak nemu. Nemunya rasa yang pernah tercabik-cabik rindu. Halah.

Gue pun menelusuri Internet dan
mulai membaca dari jutaan link yang ada, gue memilih Aura Kasih. Eh, bukan.
Maksudnya gue memilih Artikel yang di tulis oleh Mas Widianto H Didiet : Teori Darwin Kera Berawal dari Manusia.

Membaca salah satu artikel yang
gue jelaskan di atas, gue semakin yakin ternyata Teori Mas Darwin banyak
mengalami Penolakan dari masyarakat karena banyak faktor. Baik mulai dari Ras,
Agama, Budaya dan lain-lain. Selain kamu dan aku.. “Apaan ini!!” Biar kalian
bisa menambah wawasan dan pengetahuan, monggo dibaca Profil dari Mas Darwin di
Wikipedia ini : Charles Darwin.

Semenjak mempelajari perkembangan
Teorinya Mas Darwin, gue pun akhirnya menemukan fakta bahwa gue bukan dari
Kera. Gue diciptakan dari kekuasan Tuhan. Nanti, kalo kalian baca artikelnya
Mas Widianto tadi, kalian akan mengerti apa yang gue maksud. Intinya, hal gaib.
Dari dulu sampe sekarang, cuman hal gaib rasanya yg belum bisa dipecahkan oleh
ilmuan. Percaya gak percaya.

—o0o—

Setelah menemukan pencerahan itu,
gue jadi pengen membahas masa sekarang. Setidaknya di Zaman serba apa-apa nanya
sama Google. Serba jalan ke mana harus dipost di Medsos. Ini emang udah
zamannya begitu, gak mungkin gue ngelarang kalian untuk melakukan itu. Jelas
gue nanti salah besar dong. Sebagai manusia yang masih hidup di zaman modern
ini, nikmati dan gunakanlah fasilitas yang ada dengan baik dan benar.

Cuman, terkadang gue terbesit
sedikit pertanyaan yang emang rasanya ini udah biasa banget, tapi gue coba
membahasnya supaya gak terkesan biasa.

“Kenapa orang di zaman Modern itu
lebih Sombong?”

Ada yang mau jawab? Gue dulu
dong, ya jawab. Nanti giliran kalian di komentar, ya. Artinya sombong di sini,
luas banget. Gue gak mau mengkotak-kotakkan sombong dalam hal apanya. Tapi,
kenyataan ini begitu pahit kalo gue telaah baik-baik. Oke, gue mulai dari
kebiasaan bertanya.

Di zaman dulu, setiap guru selalu
menyampaikan di akhir materinya “Ayo nak, siapa yang mau bertanya? Jangan
malu-malu. Karena malu bertanya sesaat di Jalan.” Lalu menyala lagu Ayu ting-ting.
Ke mana…. Ke mana… di mana… Ku
harus… Mencari.. Di mana… Asek-asek JOS!!


Oke, gue serius lagi. Intinya
gitu, kita (gue dan kalian) yang sekolah di SD, SMP, SMA dulu pasti sering
disarankan untuk jangan malu dalam bertanya. Bahkan, Walikelas gue SMA dulu,
sering banget ngomong : “Nak, kalian sekarang masih SMA, nanti kalo kalian
sudah kuliah, pasti kalian akan merasa minder, kalo masih malu untuk bertanya.
Ayo… coba untuk memberanikan diri kalian, supaya kalian menjadi orang hebat
nantinya.” Jadi kangen Walikelas kalo inget ini.

Tapi…. di Zaman sekarang udah
beda. Semuanya serba dibuat gampang. Bahkan, banyak orang yang sebenarnya udah
tau dan kalo dia ngejawab urusan penasaran si penanya selesai. Tapi nyatanya gak gitu. Oke, gue coba buat percakapannya biar kalian
juga makin ngerti :

PERCAKAPAN ZAMAN SEKARANG

Pangeran : “Eh, wortel. Tahun
berapa Indonesia Merdeka?”

Wortel : “Ya Allah pangeran.
Jangan males dong. Cari aja di Google. Terus ketik “Tahun Indonesia Merdeka. Pasti
ketemu.”

Pangeran : “Ow.. iya, deh.
Makasih, ya.”

Gue yakin, ketika kalian bertanya
akan lebih menyebalkan kalo dijawab seperti ini :

Pangeran : “Wortel, nama Dosen
Bahasa Inggris kita siapa ya?”

Wortel : “KEPO BANGET, SIH,
PANGERAN. TANYA SAMA ORANGNYA AJA LANGSUNG.” Padahal si Wortel kampret tau
namanya. -_-

PERCAKAPAN ZAMAN DULU

Pangeran : “Wortel, siapa nama
Pendiri Apple Inc?”

Wortel : “Itu lho Pangeran…
Aduh….” Maklum, masih mengingat “Steve Jobs.”

Pangeran : “Iya…iya… Gue baru
inget. Makasih, ya.”

—-o0o—-

Gimana? Kerasa bedanya zaman dulu
dengan sekarang. Gak cuman itu aja contoh yang membuat Zaman udah berubah
drastis. Orang lebih kepada tidak ingin tau dengan orang lain, orang lebih
peduli dengan dirinya sendiri ketimbang peduli ke sesama. Orang lebih banyak jomlo
karena kurangnya pergaulan dan sifatnya yang seperti gue ceritakan di atas.

Nah, jika dikaitkan dengan
pembahasan gue di awal mengenai Mas Darwin. Sepertinya, gue mulai yakin kalo
kita (gue dan kalian) bukan keturunan Kera. Karena, gak ada kera yang bisa
ngomong. Terus, gak ada kera yang bisa buka Google. Bahkan, sampe sekarang
masih ada kera. Apakah kera-kera itu akan menjadi Manusia setelah itu? “Hayooo
coba jawab dan kasi alasan dari jawaban kalian.”

Gue gak mau menilai orang lain
seperti ini atau seperti itu. Gue coba berkaca dengan diri gue sendiri. Memang,
di zaman yang semua orang butuh cepat, tepat, dan akurat. Membuat kebanyakan
orang lupa dan parahnya lagi tidak sadar mereka telah melupakan sesuatu. Apa?
Kebersamaan dan penghargaan terhadap orang lain. Meskipun di zaman yang canggih
nanti, mau nanti smartphone bisa jadi mobil. Nothing Impposible (Gak ada yang gak mungkin). Tidaklah perlu
kalian menjadi orang yang menilai sesuatunya menjadi mudah begitu saja.

Jika ada temen atau siapapun yang
bertanya kepada kalian, semisalnya kalian tau jawabannya. Cobalah untuk
menjawabnya dengan baik dan memberikan pengetahuan kepada penanya. Tidak ada
ruginya kok, menjawab pertanyaan orang yg tidak tau. Terlepas dari dia mau
menguji kita atau enggak, selagi kalian tau, cobalah untuk menjawabnya dengan
sepengetahuan kalian.

Terkecuali kalian memang tidak
tau, teknologi bisa menjadi alternatif untuk sama-sama mencari solusi dari
pertanyaan itu. Jadi, jangan biarkan diri kalian berubah karena zaman. Tapi,
berubah karena hati dan pengalaman.

Sampai di sini dulu materi kali ini. Terimakasih buat kalian yang membaca sampai akhir. Jangan lupa LIKE, COMMENT, SHARE and SUBSCRIBE biar kalian gak ketinggalan kalo ada post baru di Tulisan Wortel. Byeee… bye…

61 thoughts on “Zaman Udah Berubah

  1. haha ah iya nih, jaman sekarang gugling is everything.
    Tapi berguna juga si, kalo ada orang nanya ke gua gua seberusaha mungkin buat jawab, nah kalo gua ga terlalu paham biasanya gua gugling dulu. jadi ya gituu. kadang tekhnologi menyelamatkanku.

    Kadang juga misal gua tanya sesuatu yg sebelumnya udah gua gugling tapi tetep gak ngerti, "eh ini apa si? udah gugling tapi tetep gagal paham" kalo di jawab " lah yaudah itu di gugel baca lagi 7x biar paham terus pakein tanah." rasanya pengen ngorekin kupingnya pake sekop pasir sih.

    1. hAHAHAHA. Terkadang emang membantu. Tapi kitanya juga harus pandai memilah-milah mana yang penting sama enggak. Lagian, emang teknologi dibuat untuk memudahkan penggunanya. Bukan malah membuat pemnggunanya salah guna.

      Googling emang ngebantu orang-orang mendapatkan informasi dengan baik. Tapi, nyatanya teknik SEO mampu mengalahkan artikel yang bukan seharusnya. Kadang, judulnya apa? Isinya apa?

  2. iya sih, bener juga kera gak bisa ngomong. atau elonya aja yang gak ngerti bahasa kera? hehehe tapi itu bukan point gue, meski gue juga sebenernya gak sabar sih datangnya masa dimana hape bisa berubah jadi mobil, eh tapi itu juga bukan point gue, point gue itu sebenernya masih banyak kok orang yang ditanya baik baik akan dijawab baik baik pulak, tergantung nanyanya ke siapa, kalo nanyanya ke anak alay kemarin sore, maka jawaban macam itulah yang kemungkinan besar akan kita dengar. salam!

    1. Hahaha, kadang gue juga bingung. Sebenarnya yg kera itu, siapa? Sama dong. Gue juga gak sabar, Hape berubah jadi MOBIL. 😀

      Yaelah,… udah panjang gini, belum poinnya juga.

      Ada benernya juga, sih. Tapi gak semua anak alay gitu. Temen gue yg gak alay aja, jawabnya gitu. "Google aja… KEtemu itu.."

      SALAM HORAS!!

  3. Nah bener ru, kita bukan hasil dari evolusi kera, tapi, zaman sekarang kadang banyak orang ngelakuin suatu hal yang lebih dari kera, bener kan ? Soalnya gue baru liat sora aoi diperkosa dalem bis 🙁

    ini juga kerasa sama gue pas UAS kemaren-kemaren ru, semoga nyambung ya.
    ada salah satu soal yang gue gak tau jawabannya, terus gue minta jawaban itu ke temen yang udah beres, dia gak ngasih tau malah nyuruh gue googling, kan kampret yang begitu :3

    1. Hahaha, itu emang bener banget er. Tapi, kenapa lo malah nonton Bo**p. -_-

      Kalo lo pas UAS minta jawaban dan gk kasi, itu lonya yg kamfert!!!! Gue juga gak mau ngasi, langsung gue jawab "Googling aja woy!!!"

  4. "Kebersamaan dan penghargaan terhadap orang lain" saya seakan mndengar kata2 yg lngka dizaman mdern ini.

    prtama, kebersamaan. Entah smakin lama kbersamaan seakan hanya lahir di media sosial. Orng dzaman mdern skarang inu lebih brani mngeluarkan pndapat di mdia sosial dbanding saat ktemu lngsung.
    prnah g sih ms heru punya tman yg aslinya pndiam tpi pas dpmbicaraan group medsos bnyak bacot bnget? Sya bnyak.

    Kdua, pnghargaan. Sma kek mas heru bilang. Orng yg brtanya trus diabaikan dn dsuruh tnya sma google mngkin akn lbih mnghargai google dripda guru. Nggk skarang sih. Bisa jdi 10 ato 20 thun akn dtang,g ada yg tau. Atau mngkin prmainan nunjuk2 atlas itu akan trgantikan.sama nnjuk2 gps. Kn g ada yg tau?

    Apapun yg trjadi, mngkin tulisan kt ini bisa mnjadi acuan dmasa yg akn dtang sbagai saksi bhwa kita bukan dri bngsa monyet apalagi bngsa sianida yg brevolusi jdi monyet. Biarkan hal gaib ttap mnjdi rhasia tuhan.

    1. Nah.. begitu biasa bangetkan, membaca kalimat itu, mas? Makanya di zaman sekarang beda banget sama dulu. 😀

      Gue juga sering nemu mas, pas di sosmed rame bener. Tapi, di dunia nyata ketemu pendiem. "INIKAN GUE???" Hahahaha

      Dulu sih, gue gitu. Cuman sekarang berusaha untuk lebih berbaur.

      Sepertinya akan seperti itu, mas. Menjadi gurupun rasanya banyak yg males jawab.

      Hahaha, bagus juga ya mas. Kalo nunjukknya di GPS gitu… Pengen main lagi rasanya. 🙂

      Itu yang selalu gue inget mas. Ini bisa jadi mesin waktu gitu. makanya gue doyan banget ngeblog. 🙂

      Yoi, biarlah hal gaib menjadi Rahasia Tuhan.

  5. Kalau menurut ane sih, bang.. Teknologi itu sendirilah apa yang namanya "sombong" dimana saat ini, saat ada dari kita yang dapat gadget baru, pasti langsung pada pamer.. Ini sering ane temuin di lapangan.. Bukan, bukan lapangan bola.. Teknologi komunikasi sekarang udah bergeser maknanya dari connecting people ke disconnecting people.. Sekarang udah jarang itu yang namanya diskusi.. Semua mengacu ke google.. Nyari materi ke google, nyari makan ke google, nyari pacar ke google *uhuk nggak nyinggung, uhuk* semuanya serba google.. Dan ane mulai bingung, ini mana yang kera mana yang manusia kalau sama2 nggak mau jawab kalau ditanya hahahaha..

    1. Lah, sebenarnya yg pamer itu siapa? Emang bisa hapenya pames sendiri, terus selfie sendiri lalu upload di Sosmed.. Enggak nyambung keknya. TEtep aja, kalo pamer HP itu, orangnyalah.. 😀

      Yaelah, ngapain juga nyari pacar di Google. HArusnya lo mikir pas nanya gitu..

  6. Tulisannya menohokkk..
    setuju pangeran.
    AKu juga dulu pernah malah punya guru yang kalau di tanya "coba nanti di gugling deh"

    Belum lagi sekarang kalau nanya soal alamat
    Dulu sih, mending turun kenalan sama orang trus tanya alamat.
    Sekarang semuanya lebih mudah karena ada maps atau waze, tapi kejadian nanya orang di jalan jarang sekali terjadi.

    Yah tinggal mau diliat dari sisi yang mana, dan bagaimana bersikap kan yah

    1. Ciyeee yang tertohok. 😀 *TOS!!* dulu karena setuju. 🙂

      Nah, bener banget laili, dulu mah, mending nanya sama orang yg punya kedai kecil di daerah itu. Pasti mereka lebih tau. Beda sama sekarang, apa-apa GPS. Pas udah tersesat baru bingung. XD

      Yoi, sikap manusianya yg harus diganti.

  7. menurut ane, kita itu di ciptakan dari sebuah ledakan besar yang disebut big bang. *lah nggak nyambug* iya juga sih sekarang kalau bertanya ke temen, paling di jawab "gugel plis ?", "nggak punya mbah ?", "Plis deh, ke gugel aja kali wa lagi mager jelasinnya". padahal mereka juga udah tau jawabannya. kalau mau di jawab nggak ada kuota, gengsi juga, *malah ikut sombong :3 ya kali nanya nama guru bahasa inggris aja, pake di guglingin segala.

    eh ngomongin permainan di buku atlas, ane juga pas sd, smp, sampe sma suka main gituan, cuman yang nyari-nyari bendera gitu. "Coba cariin bendera negara Afrika Selatan", "Coba cariin bendera negara Bursona" pas di udah cape cariin bendera negara bursona, ternyata tak ada satu pun negara di dunia ini bernama bursona. KAMPRET dahhh

    1. Benerkan? Apa-apa sekarang serba google. Kadang, gue jadi males nanya ke orang kalo jawaban mereka gitu. -_-

      Asek… masa kecil kita BAHAGIA bro… *TOS*

      Hahaha, gue juga sering gitu. Sengaja buat sendiri namanya. Nanti pas udah bete yg nyari dan nyerah, baru gue bilang emang gak ada. Langsung deh, gue digelitik rame-rame. 😀

  8. Tema tulisannya bagus kakaaa… Ringan seperti kerupuk dan menggoda seperti stoples kerupuknya yg bermotif kura2. Apalah aku yang sedikit pengalaman hidupnya ini,tak berani komentar panjang lebar. Dulu sampai sekarang saat aku bekerja di bidang pendidikan, aku selalu kasih motivasi students di kelas untuk sering searching informasi di internet. Tujuannya sebenarnya baik, agar pembelajar bisa mandiri mencari ilmu dan tidak mlulu disuapi, agar melek teknologi, agar paham dan terbiasa gunakan internet utk hal positif dan bukan buat donlot bokep. Sampai kapanpun, dengan teknologi secanggih apapun, tidak ada bedanya, pembeda hanya ada ketika si pengguna memiliki integritas dan karakter karakter yg baik. You might open the world with your charm and intelligences, but only your good characters that will bring you to the real success. Salam salam maafkan…

    1. Begini Komentar yg gue TUnggu. Sifat guru yang baik banget. "Pengen jadi muridnya ni.." XD

      Bener banget Dipi, teknologi itu akan terus dan terus berkembang seriring kemajuan itu sendiri. Tapi, kalo penggunanya tidak bijak dalam menggunakan, sebaiknya belajar menjadi bijak dalam menggunakan teknologi. Supaya tidak ada yg menjadi salah kaprah antara manfaat dengan sifat yg tidak peduli seperti itu.

      Semoga manusia di zaman sekarang disadarkan, ya DIpi…

  9. Dari dulu gue g percaya kalau kita ini cicit2nya kera. Biarlah darwin yg berbuyut kera, gue ogah..!

    Btw kalau gue ambil kesimpulan, Jaman sekarang itu semua serba salah. Nanya dikira kepo, g tahu dikira kudet, serba salah dimata orang yg kayak gitu

    1. Hahaha, sama donggg Pipit. Gue juga males banget dibilang Kera gitu.

      Yoi, serba salah karena sifat manusianya sudah dikendalikan dengan teknologi. KItanya yg harus sabar untuk ngejalani hidup di masa sekarang. Bener gak?

  10. Bisa dibilang, Google telah menjawab semua masalah manusia zaman sekarang. Mau nyari solusi setelah diselingkuhin? Google ngasih jawaban. Salut banget sama Google, ilmunya luas. Eh, anu… bukan… ah gak tau deh. Apa aja ada di Google.

    Kalo zaman sekarang, yang terasa itu pencitraannya yang kuat. Serius, di akun media sosial, selalu ada pencitraan. Ya, gak munafik, secara gak sadar kadang gue sering ngelakuin juga. Sediii, mendingan hidup di zaman dulu deh

    1. Yakin semuanya Rob? Hm…. beginilah fakta anak zaman sekarang. Gue mah, udah gak bisa mengubah sifat ketergantungan itu.

      Hahaha, makanya rob. Jangan pencitraan mulu. Mending melakukan sesuatu yg bermanfaat buat orang lain. 🙂 Yuk, diperbaiki sifat seperti itu..

  11. Aku dari dulu emang gak percaya sih sama teori Darwin, gak ikhlas aja di samain sama kera. Wkwk

    Iya, Zaman emang udah berubah, kecanggihan teknologi dan ilmu yang di peroleh melalui teknologi itu sendiri yang bikin sebagian manusia modern lupa diri, sombong, angkuh, dll. Kita sebagai pengguna teknologi harus bisa mengendalikan diri ajasih (?) Ntahlah. Hahah

    Wahahah iya ya dulu juga sering banget ke perpus sama temen-temen, tujuannya cuma buat minjem atlas bahkan globe, setelah dipinjemin barangnya langsung di pake main utk nyari nama kota/negara/bendera dll huehueh

    1. Hahaha, tapi kalo disamain sama Raisa ikhlas gak? XD

      Bener banget tu, mengendalikan diri. Karena, kalo udah gak bisa ngendalikan diri gitu, biasanya kesurupan. Artinya, orang yg gak bisa mengendalikan dirinya degan sikap seperti yg Pangeran ceritakan di atas, besar kemungkinan dia sedang kesurupan. XD

      Asekkk, zaman mudanya bahagia. *TOS!!*

  12. Sejatinya ya begitulah perkembangan sebuah zaman. Menuntut segala hal untuk berkembang, tak terkecuali teknologi. Pemanfaatan google di sini menurutku salah satu bentuk perkembangan teknologi karena adanya kemudahan dalam mengaksesnya. Smartphone yang semakin canggih. Laptop yang kekinian hingga sinyal internet yang semakin berkembang seolah semua saling mendukung hal tersebut.

    Cuma, saya setuju sih dengan apa yang diutarakan sama pangeran wortel ini. Setangkapku sih, pesan yang bisa diambil adalah jangan terlalu manja akan kemudahan teknologi tersebut. Kalau manja ya bukan suatu hal yang tidak mungkin pengetahuan kita hanya sebatas terpaku googling, lantas setelah itu lupa.

    1. DI sisi teknologi, manusia gak bisa menyangkal akan ada terus perkembangan. Dan salah satu contoh teknologi yg sudah membantu yaitu, berkurangnya pengguna kertas. karena semuanya bisa dipublish secara online atau ebook. KOnsep seperti itu keren.

      Nah, tapi ya itulah yg terjadi. Pengguna sekarang lebih terpaku ke Google ketimbang belajar dengan buku. :'(

  13. dari jaman masih di TPQ dulu, saya udah didoktrin sama ustadz saya sih bang, kalo teori Darwin itu salah dan menyimpang dari ajaran ..
    jadi waktu di SD pernah diajarin, saya jadi orang yang selalu ngedesek guru ngejawabin pertanyaan saya .. hehe
    Tapi liat kelakuan pejabat2 di Senayan sono, kok malah jadi yakin ya,kalo manusia diciptakan dari monyet !!
    kelakuannya sama bang pang .. -__-

    Ya sekarang kurang nanya dibilang Introvert, kebanyakan nanya dibilang Kepo !!
    kalo udah nanya jawabannya suruh cari di Google !!
    kayaknya lama kelamaan fungsi mulut di wajah kita ini udah nggak berguna deh ..

    1. Nah… dari Sisi Agama benar-benar menentang Teori ini. Makanya gue juga gak gampang percaya gitu, aja.

      Hahaha, kalo soal Politik Negeri, gue emang bukan yg terlalu peduli. Karena, intinya Negara yg besar selalu membesarkan Kejujuran. Tapi, jika seperti itu, gue cuman bisa bilang. "Ya mau gimana?"

  14. Kenapa orang di zaman Modern itu lebih Sombong?

    Gue tertarik untuk menjawab pertanyaan itu, Om.

    Menurut gue nih ya, ada banyak hal yang bikin orang di zaman modern ini menjadi sombong. Banyak banget. Salah satunya, Gagdet.

    Enggak. Gue enggak anti gagdet atau apalah gitu. Memang nggak bisa di pungkiri, kita membutuhkan benda-benda itu. Tapi, sadar atau tidak sadar, gagdet sudah terlalu banyak mengambil peranan dalam hidup kita. Bisa di bilang, kita di kendalikan oleh gagdet. Ya, jadinya, kita malas bersosialisai, bertegur sapa seadanya saja, ketika nongkrong bareng nggak banyak hal yang bisa di bahas, gara-gara semua pada sibuk sama gagdet.

    Satu hal lagi, menurut gue, gagdet sedikit banyak sudah merubah yang namanya adat istiadat. Contohnya?

    Gue masih ingat, waktu zaman-zaman SMP atau SMA, ketika ingin jemput gebetan atau pacar di rumahnya, kita harus bertamu dulu, ngucapkn assalamualaikum, atau salam. Minta izin sama orang tuanya, atau cuma basa-basi sebentar. Tapi, zaman sekarang, yang gue lihat, orang-orang kalau mau jemput pacarnya di rumah, terus udah sampau di depan rumah, tinggal ngetik di bbm atau sejenisnya, "Sayang, aku udah di depan, nih". Miris, kan? Enggak ada lagi yang namanya basa-basi, atau sekedar berkomunikasi gitu.

    Jadi, menurut gue, kita harus selalu pandai-pandai dalam menggunakan gagdet. Agar kita tidak menjad orang "sombong" di zaman modern seperti sekarang. So, let's disconnect, to connect.

    Panjang bener yak komen gue, Om. HAHHAHAHAHA.

    1. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat ya die. Itukan inti yang lo maksud. 😀

      Keknya dari komentar ini, gue seakan diajak untuk ikut-ikutan bete sama kelakuan orang sekarang. Emang, sih. Ngebetein banget malah. Tapi, begitulah yg terjadi jika pengguna tidak pandai menjaga apa yg seharusnya. TEknologi adakan, supaya kitanya dimudahkan. Bukan mempersulit hubungan dan interaksi antar sesama. Bener gak?

      Serius, yang budaya itu udah semakin pudar dan miris die.

      Yoi… Nice komentar deh.. 🙂

  15. Gugel itu berguna banyak lho. Hampir semua yang pengen dicari pasti ada. Cara memasak mie instan aja ada, padahal bisa lihat di bungkusnya. tutorial cara melakukan rasengan sama chidori aja ada kok. pangeran cari aja, siapa tau bisa jadi ninja.

    Kalo masalah teoriDarwin, gue dari SD langsung gak percaya. Gue kalo naik pohon aja sering ribet kalo mau turun, mau disamain kera..

  16. kirain sampai sekarang masih penasaran sama teori mas darwin, ternyata udah engggak.

    sekarang mah gitu dikit dikit ke google, tapi ya itulah zaman sekarang.

    itu yang permainan tebakan gitu aku kok gak tau, ah berarti masa kita beda. hahaa..

  17. Pengen bahas tentang masalah teori evolusi Darwin. Tapi sih sebenernya ini bukan bidangku bang. Jadi mungkin banyak kesalahan di komenku. Ehe 😀

    Untuk masalah teorinya, sebenernya nggak cuma menyangkut masalah evolusi manusia saja, tapi juga seisi alam. Disebutkan bahwa ada 'seleksi alam' di dunia ini. Tapi yang paling kontroversial dan ditentang ya masalah evolusi manusia itu.

    Secara ringkasnya sih isi teorinya bahwa 'bahan mentah' di balik evolusi kehidupan di atas bumi adalah ariasi-variasi individu-individu yang terus berkembang di dalam spesies yang sama, plus keturunan-keturunan dalam umlah besar, yang berarti bahwa hanyasebagian dari mereka yang bertahan hidup. (ada lanjutannya lagi sih sebenrnya, ehe 😀 )

    Darwin memperlihatkan adanya kesamaan manusia dengan hewan (mamalia tentunya). Kalo dari teori-teori evolusi sebelum Darwin sih ada yang bilang kalo ada 'satu zat' untuk membuat alam semesta ini. Jadi Darwin menemukan adanya 'suatu hal' yang sama yang membentuk manusia dan hewan (entah itu kera atau hewan mamalia yang lain, aku nggak tau).

    Udahan ah, ntar malah dibilang pro Darwin 😀 Kalo ada yang salah silahkan koreksi bang, ehe 😀

    1. Nah.. sebenarnya gak perlu malu gitu POn. Gue tau, secara ilmiah udah dijelaskan detail banget, kok. Nyampe-nyampe gue baca buku khusus materi kek gini. CUman… di sisi lain, penentangan itu terus terjadi. karena, begitulah sifat manusia.

      Terimakasih udah nambahin penjelasannya ya pon. 🙂

  18. Selain menjadikan manusia jadi sombong, juga menjadikan manusia jadi males ya, Pangeran. Berserah pada Google mulu. Dulu kalau ngefans sama musisi, rela beli CD originalnya. Sekarang karena ada Google dan website unduh lagu, jadi nggak beli. Tinggal download.

    Dulu kalau suka sama satu lagu trus mau dihapal, pas lagunya nongol di MTV, sekuat tenaga dengan coretan ayam nulisin liriknya. Salah salah lirik nggak papa, itu aja udah seneng karena bisa nyanyiin liriknya. Lah sekarang kalau mau tau lirik, tinggal ke Google.

    Trusssss, sekarang kalau pedekate, deketinnya lewat socmed. Jarang banget interaksi langsung. Nggak ada usahanya. Aaaaaak jamaaaaaaaan 🙁

    1. Iya cha, bener banget. Semuanya jadi serba males-malesan dan pada akhirnya dikendalikan oleh teknologi. inget sebuah film Terminator, kebayang aja, kita udah diserang sama Teknologi. Apa itu bakalan terjadi? BIsa saja..

      Hahaha, ini true story banget, cha. Pangeran juga pernah gitu.. Sekarang malah tinggal ketik aja di Google, udah muncul semua.

      Iya cha… usahanya udah kurang banget-banget. Malah gak ada kalo dipikir2. Semoga banyak yg bisa disadarkan ya, cha. Amin..

  19. Sama gue juga dulu sempat dibodohhin dengan teori Darwin, tapi semua teori itu berubah ketika negara api menyerang ekh pelajaran agama gue pelajarin 😀

    kirain pelajaran Biologi yang bikin penasaran materi Reproduksi bukan Evolusi huahaha :v

    Yoi zaman sekarang orang-orang jadi sombong, dapet sesuatu posting di sosmed, kena musibah juga posting di sosmed. ekh ini termasuk sombong apa pamer ya?

  20. Betul bang, sangat terlihat sekali, nih. Saya sendiri juga tidak mau menggurui, karena saya juga serupa. Jadi, perbaiki diri masing-masing aja, guys.

    Untuk percakapan antaran Pangeran dan Wortel-nya lucu banget, nih~

  21. itu aku masa nggak mudeng permainan apa, yang ada klu-klu bangsatnya itu. mau dong diajarin.
    ih masa kecilku kurag bahagia yah berati.

    "TIME PASSES AND PEOPLE CHANGE"
    cuman ya cuman, kalo kita nggak mengikuti perkembangan jaman yang ada kan repot juga mas. misalkan nih, jaman sekarang kan emang technologi udah canggih , bahkan sms aja sekarang udah termasuk hal jadul. masa iya kita masih mau pake surat buat komunikasian sama gebetan, yang ada kita kena tikung duluan dong.
    hmmmm

    menurut aku, asal pinter-pinter kitanya aja yang mengikuti perubahab/perkembangan zaman ini.

    1. Yuk, ke sini aja. Kita main bareng. Biar Pangeran ajarin caranya. 😀

      Nah.. endingnya bener tu. Harus pintar menggunakan teknologi. BIar gak dikendalikan. Informasi emang diharapkan cepat. Tapi… bukan merusak interaksi org terdekat. Bener gak?

  22. Betul banget tuh pangeran. Banyak bertentangan dari teori mas darwin. *biar keliatan akrab juga.
    Ngomong2 dulu, gue jadi kangen saat2 maen di luar rumah bang, masa kecil yang indah. Klo sekarang mah pada asyik maen gadget. Miris banget si liatnya.
    Selain itu ada yang lebih miris si bang, HP anak TK lebih canggih daripada HP gue. *hiksss jadi curhat di blog orang. 😀

    Intinya si perlu sebuah teknologi, klo gak ada teknologi. Gue gak bisa komentar disini. hihihi

    1. Eaaa ikutan akrab. 😀

      Yaudah, gak usah nunggu jadi kecil lagi. MEndingan sekarang keluar dan main apa yg lo mau Nyol… Biar masa kecilnya bahagia lagi. 🙂

      Nah.. kalo soal HP, itu diluar kekuatan gue nyol. 😀

      Teknologi ya jelas perlulah. Tapi, penggunaanya harus sesuai porsi. 🙂

  23. Gw mesti sensitif kalo ada nama mas darwin dan teorinya. Gw gk terima dibilang berasal dari monyet. Padahal kan…. Titisan para dewa.. Bertindak sesuka hati lompat kesana kesini.. Hilangkan semua masalah dimuka bumi ini

    Ciye nyanyi ya. Entah itu lirik bener apa nggak. Tanpa gugling looh. *harusbangga

  24. Menurut Al-quran bukan manusia jadi monyet tapi yang ada manusia yang dikutuk jadi monyet gegara gak ke mesjid..

    Aku dulu waktu masih kecil hobby tanya mulu sampai masalah yang dibilang orang gak penting buatku jadi penting.. bikin yang ditanya kesel sendiri atau mungkin baru mikirin hal yang aku tanyakan.. sekarang ada enaknya sih kalo mau tau sesuatu tinggal gugling, gak perlu bikin orang lain mikir kecuali nama dosen loh..

  25. Ah. engkau mengingatkanku pada pemikiranku waktu dulu…

    Kapan saya bisa bertemu dg mantan2 ku?

    ealah…. ndak taunya sekarang ada fb, twitter, blog. DAN TEMAN2 LAINNYA… Kalau zaman dulu, pindah alamat saja susah utk dihubungin… ya kan???
    Zaman benar2 udah berubah kelamin yah nak?
    xixixi

  26. entah kenapa ya Ru gue baca postingan lo ini kayak muter2nya jauh banget dan di akhir lo nyimpulinnya beda dari judul lo itu, gue rasa (ini saran ajah) lo harus buat pembaca blog lo fokus pada apa yang mau lo bahas, jangan melebar kemana-mana. dari mas gagah sampai ke darwin…lalu ke teknologi dan di akhir lo amalah bikin pembaca bingung dengan quote ttg tekonlogi yg bikin kit jadi beda ? ??? terlalu lebar ru. dan ini bsa di jadiin beberapa postingan

    1. Teknologi dan penggunanga
    2. Teori bukan Fakta (darwin)
    3. Komunikasi di era social media
    4. dll

    itu ajah si kritik dan saran dari gue untuk postingan lo kali ini (walaupun nggak di suruh).. hehehe..

    zaman akan selalu berubah ru, perubahan membawa kita pada ssesuatu yang baru dan bikin nggak bosen. hehe

  27. setuju sich emang ada monyet yang kaya kita-kita.. sok tau aja tuhh..
    iya sich internet itu bikin males baca.. sebel dch lw keponakan nanya PR padahal di buku dy udah ada jawabannya.. mereka mah gitu gk mau baca mw langsung Googling

  28. Aku setuju dengan twit, Pange. Jadikan teknologi sebagai alternatif. Jangan bergantung sepenuhnya ke teknologi.

    Aku jadi lebih paham tentang ini setelah baca soundcloud Pangeran kedua kalinya. Hehee

  29. Banyak orang mengira teknologi akan memudahkan kinerja manusia, tapi nyatanya banyak pula karena keberadaan teknologi menghapus beberapa nilah sosial yang ada di masyarakat. Ya contohnya seperti itu, dan juga menjadikan manusianya lebih suka akan sesuatu yang instan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *