Tidak Pulang Kampung

Tidak Pulang Kampung

Mau bilang gak terasa kalau sebentar lagi mau Lebaran, bohong banget. Soalnya, aku bener-bener merasakan nikmatnya Puasa tahun ini jadi spesial banget. Gak tau kenapa.

Bukan karena sudah ada yang bangunin sahur. Tapi sepert ada yang bener-bener beda di Bulan Ramadhan tahun 1440 H ini.

Buat temen-temen gimana? Puasanya udah ada yang bolong belom?

Kalau ponakanku udah lumayan mendingan bolongnya dari tahun lalu. Masa kalian kalah sama ponakanku. Hehehe.

Ow, ya. Kemaren ada yang nanya : Kenapa selama bulan Ramadhan gak ada upload konten Pangeran?

Bukan gak ada upload, tetep ada. Cuma untuk sekarang aku drafkan dulu buat setelah Lebaran nanti. Aku juga pengen ibadahnya lebih fokus seperti temen-temen yang lain. Semoga dimudahkan semua urusan kita.

Perihal gak publish konten udah aku jawab. Seperti yang aku ceritain di awal, sesuatu yang berbeda di Ramadhan tahun ini akan aku jelasin kenapa bisa beda?

Jika sejenak kalian aku ajak memutar waktu, 2 tahun yang lalu aku boleh di katakan jarang banget ada di rumah orang tuaku ini. Aku lebih suka berkelana sana sini menemukan hal baru.

Makanya, setelah aku lulus kuliah dan sekarang tinggal di kampung bareng orang tua. Aku bener-bener merasakan perbedaan 180 Derajat dari tahun-tahun sebelumnya.

Biasanya setiap bulan Ramadhan aku masih di Perantauan. Menata karirku yang belum tau mana arah yang tepat buat aku jalani. Nyari relasi ke sana-sini demi mudahnya urusan kedepannya. Nanti setiap 1 minggu sebelum Lebaran, aku suka diem menung sendiri di kamar.

Meratapi nasib jauhnya dari orang tua. Apalagi, kalau sudah denger lagu-lagu Lebaran dari Malaysia. Hadeh…. Seperti remuk seisi badan pengen langsung pulang.

Bahkan, di perjalan pulang terkadang tidak semulus yang diharapkan. Ada saja hal yang membuat perjalanan semakin terasa sulit untuk ditempuh. Tapi aku tetep bersyukur masih punya Orang Tua yang bisa aku cium tangannya dan pipinya untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku punya.

Seperti kejadian 3 tahun lalu, saat aku 1 bulan harus tinggal ke Malaysia untuk memenuhi data penelitianku di kampus.  Ada begitu banyak tantangan yang harus aku hadapi. Belum lagi, aku harus menempuh perjalanan ke Negeri tetangga ini hanya bermodal alamat.

Syukurnya, setiap perjalananku dimudahkan. Saat pengen pengen beli tiket klia ekspres mudah ke bandara dari Kuala Lumpur ke Bandara jadi gampang banget. Ada aja ada fasilitas yang sudah tersedia di zaman ini. Tinggal klik, langsung naik deh.

Padahal, kalau dipikir baru 1 bulan aku di Malaysia. Rasanya itu bener-bener kangen rumah. Meskipun waktu itu masih 2 bulan lagi Ramadhan, rasanya kangen banget sama rumah.

Endingnya, aku memutuskan pulangnya melalui jalur Kapal menuju kampung halamanku, Bengkalis.

Jadi, berangkat Pekanbaru ke Malaysia menggunakan Pesawat, pulangnya dengan Kapal. Belum lagi harus menghadapi perjuangan mentalku naik kapal yang cetek ini. Lebih tepatnya, aku paling gak tahan dengan bau Minyak Solar yang ada di kapal. Gak tau.

Dari kecil, aku selalu mabuk laut gara-gara mencium bau Minyak Solar itu. Padahal, ketika di darat aku baik-baik saja. Herannya kalau sudah di kapal, aku jadi mendadak pusing dan endingnya kalau gak keluar dari ruangan penumpang ke belakang atau ke atas kapal, aku akan masuk angin dan muntah-muntah.

Ya, aku bener-bener ngerasa lemah banget kalau sudah naik kapal. Tapi tetep saja aku gak kapok. Kemanapun jalan-jalan yang harus ditempuh kapal, aku turutin. Ya… Meskipun ujung-ujungnya kalau gak kuat muntah. 😀

Kalau sudah melewati drama yang seperti itu dan akhirnya bisa ketemu Orang Tua. Rasanya lega banget, melihat senyum mereka menyambut kedatanganku. Belum lagi ibuku suka buat kejutan dengan masakin makanan kesukaanku.

Udah deh, lengkap hidup ini rasanya.

Nah, yang berbeda di tahun ini adalah aku udah masuk tahun ke-2 pulang ke kampung halaman dari Perantauanku.

Alasannya simple, sih. Pengen ngurus orang tua. Karena aku cuman 2 bersaudara dan aku anak terakhir, makanya aku lebih memutuskan pulang dan mencari nafkah di sini.

Meskipun ada begitu banyak kendala yang harus aku tempuh sebagai konten kreator. Baik jaringan, akses alat-alat tempur dan hal lainnya. Yang jelas, dari semua kendala itu aku tetep selalu berusaha bersyukur karena aku bisa kumpul lagi sama orang tua.

Memang, serunya lebaran sudah tidak seperti 2 tahun yang lalu. Ada begitu banyak drama yang harus aku tempuh ketika menuju pulang. Dan sekarang aku sudah di rumah, tinggal menikmati saja bagaimana serunya Lebaran tahun ini.

Berhubung postingan tentang Panduan dan Tips akan tayang setelah Lebaran, aku mau ngucapin Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga kita selalu dimudahkan semua urusannya. Aminnn.

Pangeran Wortel Pamit. See you…

About Pangeran Wortel

Blogger dari Kab. Bengkalis. Sukanya ngisi waktu luang untuk buat video, nulis di blog, desain feed instagram #bukanfakta dan kadang suka sendiri di pantai. Salam kenal..

View all posts by Pangeran Wortel →

2 Comments on “Tidak Pulang Kampung”

  1. Samaan nih, aku juga agak-agak gak nyaman dengan aroma kapal laut. Entahlah, rasanya pikiran langsung ngirimn sinyal ke otak klo baunya gak enak.
    Eh tapi, gak bikin kapok juga sih bolak balik naik kapal hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.