Akhirnya Fio Datang ke Pekanbaru

 

Hari minggu kemaren, Fio dateng
untuk pertama kalinya di kostan gue. Waktu itu, gue lagi di rumah sambil ngecek Zalora untuk nyari wakai. Nah, pas ngecek wakai di Zalora, masuklah SMS di telepon genggam gue yang isinya :

“Heru, kakak bentar lagi nyampe di depan kampus. Jemput, ya.”
“Oke! Kak.” Balas gue
Tanpa mandi dulu, gue langsung
menuju depan kampus, supaya kakak gue gak kelamaan nunggu. Ketika nyampe di
depan kampus. Waktu itu menunjukkan jam 12.30. Sambil berdiri dan
mondar-mandir, gue mencari wajah kakak gue, setelah lama mencari, gue duduk di
sebuah warung pinggir jalan, yang gak buka. Gue menunggu dan menunggu, hingga
ada ibu-ibu lewat dan menyapa gue “Dek, kok warungnya gak dibuka?”
Secara spontan gue nelen ludah
terus hening sambil mulut mangap “Bukan saya yang punya, bu!!” Jawab gue tegas
“Ooo, ibu kira punya kamu.
Habisnya mirip.”
“…..%@*&()” Entah dari mana
muka gue bisa mirip sama penjual Es Kelapa Muda.
Sudah 30 menit lamanya gue
menunggu dan dikira penjual es. Tak lama setelah itu, Kakak gue menelpon gue :
Kakak : Heru, kakak sudah di depan kampus, ni.
Gue : Iya, Heru juga udah di depan kampus, bentar ya. Heru cari lagi.
Setelah ketemu, Fio (anak kakak
gue yang sekaligus ponakan gue) nyamperin gue dengan wajah lesu dan lelah. Gue
menyapa santai.
“Akhirnya sampai di Pekanbaru, ya
Fio.”
Fio mengangguk saja dan menjawab
singkat “Paman, ini di mana?”
“Pekanbaru.”
“Tempat paman sekolah?” Anggapnya
gue masih sekolah
“Iya, di
sinilah tempat paman kuliah.”
Percakapan itu
selesai, gue mulai menyusun barang-barang yang lumayan banyak dan menuju ke kost.
Selama di jalan, Fio terus focus memandangi arah depan. Mungkin dia masih heran
dan gak nyangka bisa sampe Pekanbaru. Karena sebelumnya memang Fio pas baru
bisa merangkak dulu datang ke Pekanbaru. Itu pun udah lama banget. Gue melihat
wajahnya gembira di sebalik rasa lelahnya.
Setelah nyampe
di Kost, hal pertama yang Fio tanyakan “Paman, ada toilet gak?”
“Untuk apa io?”
Jawab gue Heran
“Pipis paman..”
“Oww, tuh,
masuk aja di pintu warna orange itu.”
Fio langsung
berlari ke pintu yang ternyata bukan gue sarankan. Dia mendorong keras-keras
pintu kamar gue yang terkunci rapat plus nahan pipis.
“Fio, bukan
itu, sampingnya.”
“Ini paman?”
Fio bertanya lagi
“Iya, itu.
Dorong. Haaa.”
Fio ini usianya
masih 5 tahun, untuk soal warna, dia sedikit ingat dan banyak lupa. Meskipun
begitu, sebagai paman yang baik, gue terus mengajarinya.
Sambil kakak gue beres-beres dan
nyusun pakaiannya, gue juga ikut membersihkan ruang belakang yang sedikit
berpasir. Tak lama kemudian, gue mendengar jeritan anak kecil. Karena merasa
anak kecil di Kostan gue ini banyak. Gue cuek aja. Namun, tak lama setelah itu
gue denger lagi lebih keras “Mannn. Huhuhu paman…” Ya Allah, gue baru inget,
kalo pintu kamar mandi yang Fio masuki rada susah dibuka dari dalem.
“Fio… Fio..” Panggil gue panik
“Huhuhu, bukaaaa pamannn… Fio
takut..” Fio terus nangis menjerit-jerit dan membuat gue semakin panik gak
karuan
“Pegang pembuka pintunya, putar
keras…” Kebetulah, kunci kamar mandi itu di dalam. Aduh..
“Pamannnn……. Klakkkk (Suara pintu
kebuka)”
“Alhamdulillah, kebuka.
Udah-udah, jangan nangis.”
“Fio takut paman..”
Gue merangkul badannya dan
mengucapkan kalimat “Fio kalo jadi laki-laki harus kuat, dalam kondisi apapun
gak boleh nangis, OKE!”
Fio mengangguk dan mengusap air
matanya dengan handuk yang gue kasi. “Yuk, tidur paman.”
“Lho!! Kenapa kok tiba-tiba mau
tidur?”
“Fio ngantuk Paman, maunya sama
Paman tidurnya.. Huhuhu.”
Memang, teman Fio kalo gue di
rumah. Ya hanya gue yang dia bisa ajak jalan, becanda, seneng-seneng. Makanya
dia deket banget sama gue. Kalo gue pulang ke selatbaru, pasti dia gak mau
pulang ke rumah orang tuanya, dia udah nyaman sama gue.
Sore itu gue akhiri dengan
menemani Fio tidur. Dia tampak merindukan gue, karena gue udah 4 bulan gak pulang.
Tangannya merangkul badan gue. Sepertinya dia benar-benar merindukan sosok gue
di rumah. Gue membalas pelukannya dan sedikit bergumam : Doakan pamanmu ini cepet lulus, ya Fio. Biar kita bisa ketemu terus.

“Tidak cukup hanyak membuatnya
tersenyum, dia juga butuh kenyamanan. Heru Arya”

20 thoughts on “Akhirnya Fio Datang ke Pekanbaru

  1. Hehehe… semoga paman Fio cepat lulus ya.. skripsinya cepat selesai. Bisa rangkul lagi satu sama-lain, tidak lagi dipisahkan oleh jarak dan waktu…

    Semangat! Ayo lulusnya bareng saja, ini saya juga lagi garap skripsi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *